NURUDIN, Wakil Sekretaris PC.NU Kabupaten Tulungagung
CATATAN SOSIALISASI PENANGGULANGAN RADIKALISM
Oleh : Nuruddin
Malangguide.com - Diacara sosialisasi penanggulangan radikalisme dan terorisme
yang diselenggarakan Kesbangpol Tulungagung bersama Ormas, OKP, Kepolisian dan
TNI berjumlah 200 hadirin dengan latar belakang yang beragam, sedikit catatan
yang mampu saya kumpulkan dari apa yang disampaikan para pemateri, khusunya
terkait ciri-ciri Paham Radikal.( Senin, 11 November 2019)
Bentuk Islam
radikal bisa bermacam-macam, adakalanya
tampak dalam tampilan fisik maupun dalam tampilan amaliyah sehari-hari.
Diantara ciri Islam radikal dari hasil simpulan yang saya catat adalah:
1. Tidak
Mengenal Perbedaan
Kelompok
radikal cenderung membuat segala urusan beragama menjadi satu identitas yang
sama, sehingga tidak mengenal khilafiyah atau perbedaan. Jadi kalau ada yang
berbeda, maka harus disamakan, atau berhadap-hadapan.
2. Berlebihan
dan Bias
Segala sesuatu
selalu disangkut pautkan dengan dosa serta mereka yang melakukan dosa besar
dianggap kafir. Mereka tidak mengenal dosa
yang bisa hilang dengan maghfirah Allah SWT. Mereka juga tak mengenal
istilah dosa kecil.
3. Eksklusif
Eklusifitas
sengaja dibangun dalam kerangka membedakan kelompoknya atau bukan. Seolah-olah
eklusifitas ini sebagai wujud memurnikan diri dalam mengamalkan al qur'an dan
Hadist.
4. Rajin
Beramal
Apa yang
dilakukan oleh mereka yang terpapar radikal tidak semua negatif, para korban
paham radikal umumnya lebih rajin mengamalkan sisi-sisi agama. Bukan berarti
mereka yang terpapar radikal tidak ada sisi positifnya, tetap ada walaupun
kecil
Rajin shalat
berjamaah, rutin tilawah, aktif qiyamul lail, hadir di banyak kajian, jidadnya
semakin menghitam, celananya congklang, yang perempuan kadang bercadar dan
gayanya ke arab-araban.
Kalau memanggil
sesama sering memakai Ana, antum, akhi, ukthi, ikhwan, akhwat, syafakallah,
syukran, afwan dan seterusnya.
Apakah semuanya
tidak boleh? Boleh saja, mau ke arab-araban, mau cadaran, Monggo, tapi jangan
menyalahkan yang tidak ngarab dan tidak sama dengan anda. Jangan pula merasa
diri paling suci, paling benar, paling dekat dengan Tuhan, lalu mengejek,
melecehkan, merendahkan bahkan membuli orang yang tidak seperti dirinya.
Mau cingkrang
itu silahkan saja. Tapi kalau saudaranya muslim yang tidak cingkrang lantas
dimaki-maki, dikatain fasik, berdosa, dan masuk neraka, tentu jadi over dan
kurang dapat simpati.
Begitu juga
orang cadaran, silahkan saja. Tapi kalau cadaran ya jangan rajin membuly
saudarinya yang tidak bercadar, tentu jadi tidak bijak.
Shalat jamaah
di masjid 5 waktu tentu baik dan dapat 27 derajat. Tapi kalau tetangganya yang
tidak berjamah lantas divonis munafik 100%, tambah gelar fasik, tidak beriman,
tentu kurang tepat.Sebab yang
mewajibkan memang ada, tapi yang tidak mewajibkan juga ada dasarnya.
5. Memusuhi
Kafir
Islam radikal
tidak mengenal konsep pembagian kafir menjadi dua (harbi dan dzimmi). Konsep
mereka semua orang kafir itu harbi, musuh agama, harus diperangi, halal harta
dan nyawanya.
Semua ayat yang
isinya tentang berbuat baik kepada orang kafir dianggap mansukh (sudah diganti
dengan hukum baru), yang berlaku bagi kelompok mereka adalah ayat jihad, qital
dan perintah bunuh semua orang kafir.
Orang tua Nabi
Muhammad SAW juga selalu disebut-sebut
kekafirannya. Padahal orang tua kanjeng nabi Muhammad hidup di masa fatrah,
ketiadaan risalah.
Padahal para
shahabat yang hidup semasa dengan kanjeng Nabi, malah tidak pernah
mengungkit-ungkit masalah kekafiran orang tua Nabi Muhammad SAW karena khawatir
akan menyinggung dan menyakitkan hati
beliau Rosulillah Muhammad SAW.
Mudah terbakar
urusan beda agama, kadang sampai terjadi kerusuhan, pembakaran rumah ibadah
bahkan sampai menghalalkan penjarahan dan pembunuhan.
6. Kultus
Individu
Ini ciri yang
selalu melekat, yaitu sangat mengkultuskan tokoh kelompok mereka sendiri.
Kadang posisinya lebih dari makshum, nyaris tidak pernah salah. Tapi
sebaliknya, mereka menghina ulama-ulama yang bukan dari kelompoknya
7. Gemar
Bermusuhan
Ciri yang
sering ditemukan dari mereka yang terpapar
radikal adalah sikap beragama yang gemar bermusuhan, cenderung
menyalahkan semua orang, bahkan rajin menyerang siapa pun yang tidak sejalan
dengan pemikirannya.
Mudah memvonis
kafir, fasik, munafiq, jahiliyah karena sebab sepele, atau setidaknya rajin
membuat postingan nyinyir kepada kelompok yang tak sama dengannya.
8. Dangkal Ilmu
Tapi Semangat Beragama Luar Biasa
Bersembunyi
dibalik pemahaman tekstual "Ballighu 'anni Wa lau Ayat" Sampaikan
pengetahuan dari Tuhanmu, walau hanya sekedar satu ayat". Memang betul
dakwah mengajak kepada orang lain itu baik, tapi ya jangan lantas lupa kalau
posisi masih punya pemahaman sedikit, ya harus belajar lagi.
Sering juga
ditemukan, orang-orang yang tidak terlalu punya dasar-dasar ilmu keislaman dan
ilmu syariah yang mumpuni, namun semangatnya berlebih untuk menerapkan syariat.
Namun di balik
kelemahan keilmuannya, dia tutupi dengan semangat mengaplikasikan agama dengan
membara. Kesannya jadi kayak orang Sholeh dan 'Alim, padahal ilmunya dangkal
dan terbatas.
Makanya yang
terkena paham ini biasanya kalangan yang awam dengan agama, yang baru saja
punya kesadaran dan nilai-nilainya secara instan.
9. Tidak Punya Rujukan
Keilmuan Berstandar
Biasa berdalih
dengan memanfaatkan petikan ayat Al-Quran atau potongan hadits terjemahan yang
diputar balik maknanya dan diplintir sekenanya, demi kepentingan bisa mendukung
opininya. Namun kalau diteliti lebih jauh, sebenarnya teknik berdalilnya
terlalu rapuh, lemah dan tidak tepat.
Ayat Quran dan
Hadits hanya dijadikan alibi membodohi orang awam secara harfiyah dan tekstual.
Seolah terkesan alim dan mengerti secara mendalam, padahal tidak pernah bisa
merujuk kepada kitab tafsir atau syarah hadits.
10. Emosional
dan Delusif
Cenderung
bersikap emosional, mudah marah, gampang benci, rajin curiga, phobia, dan
nyaris mirip psikopat.
Dalam
delusinya, umat Islam saat ini dalam keadaan genting, lagi dikepung sekularisme, liberalisme, bid'ah, tahayyul,
churafat, atau diibaratkan Islam sedang dikepung oleh sekawanan hewan buas dan
lapar, yang siap menyerang dari segala penjuru.
Keyakinan atau
kenyataan semu macam ini diyakini terus menerus meskipun bukti dan kenyataannya
berlawanan.
Salah satunya
lewat indoktrinasi menggunakan hadits nabawi yang bercerita keadaan umat di
akhir zaman. Dikepung dan dikerubuti oleh musuhnya. Sehingga terkesan jadi
sangat dramatis, heroik dan bombastis.
Padahal
kenyataannya dimana-mana Islam bebas diamalkan, diajarkan dan didakwahkan.
Tidak segenting yang dikesankan.
Korbannya siapa
lagi kalau bukan aktifis pemula yang lagi terbakar ghirah dakwahnya?
Editor : Alim Mustofa
Tautan : https://www.youtube.com/channel/UCmCQ3EUlPGG8AF4BqO6DkHQ
Editor : Alim Mustofa
Tautan : https://www.youtube.com/channel/UCmCQ3EUlPGG8AF4BqO6DkHQ
